Majapahit Jaya Warisan Besar Yang Membentuk Nusantara

Majapahit Jaya Warisan Besar yang Membentuk Nusantara – warisan besar yang identitas Nusantara fondasi penting bangsa Indonesia modern.

Ketika membicarakan sejarah Nusantara, sulit untuk tidak menyebut Majapahit. Kerajaan yang berdiri sejak akhir abad ke-13 ini bukan hanya simbol kejayaan politik, tetapi juga fondasi kebudayaan, hukum, dan identitas kepulauan Indonesia modern. Banyak sejarawan menilai Majapahit sebagai salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara kala itu. Bahkan, konsep Nusantara yang kita kenal sekarang tidak bisa dilepaskan dari gagasan dan praktik pemerintahan Majapahit.

Lebih dari sekadar catatan sejarah, Majapahit adalah warisan besar yang masih memengaruhi cara pandang bangsa terhadap persatuan, keberagaman, dan kedaulatan. Artikel ini akan mengupas bagaimana kejayaan Majapahit membentuk struktur sosial dan politik Nusantara, dengan menyajikan bukti dan analisis berdasarkan penelitian terbaru.

Akar Kejayaan Dari Jayakatwang hingga Hayam Wuruk

Majapahit lahir dari momentum besar. Setelah Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang, Raden Wijaya berhasil mendirikan kerajaan baru pada 1293 dengan dukungan pasukan Mongol yang kemudian ia tipu dan usir. Dari sini, Majapahit mulai menegakkan fondasi pemerintahan.

Puncak kejayaan terjadi pada masa Raja Hayam Wuruk (1350–1389), didampingi patih legendaris Gajah Mada. Dalam Sumpah Palapa yang terkenal, Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati palapa (kenikmatan duniawi) sebelum mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji Majapahit. Menurut sejarawan Anthony Reid (2016), inilah salah satu konsep awal integrasi kawasan yang mengilhami persatuan bangsa di kemudian hari.

Warisan Politik: Konsep Nusantara dan Diplomasi Laut

Salah satu peninggalan penting Majapahit adalah konsep “Nusantara.” Dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca, tercatat daftar wilayah kekuasaan dan pengaruh Majapahit, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga sebagian Semenanjung Malaya. Meski banyak ahli berdebat tentang sejauh mana kontrol nyata Majapahit, catatan ini menunjukkan kesadaran geopolitik yang luas.

Majapahit juga menempatkan laut sebagai urat nadi kekuatan. Jaringan perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi membuat kerajaan ini makmur sekaligus berpengaruh di jalur maritim Asia Tenggara. Penelitian Pierre-Yves Manguin (2018) menegaskan bahwa strategi maritim Majapahit menjadi salah satu dasar pembentukan identitas maritim Indonesia modern.

Warisan Sosial dan Budaya: Sastra, Arsitektur, dan Seni

Selain aspek politik, kejayaan Majapahit juga melahirkan warisan budaya yang tak ternilai.

Sastra: Negarakertagama bukan hanya sumber sejarah, tetapi juga karya sastra klasik yang mengandung nilai etika, estetika, dan pandangan politik.

Arsitektur: Candi-candi seperti Candi Penataran dan Candi Tikus memperlihatkan keunggulan arsitektur dan teknologi hidrolik. Situs Trowulan yang kini diteliti lebih lanjut menjadi bukti nyata kompleks kota kuno terbesar di Asia Tenggara.

Seni: Patung, relief, dan wayang beber berkembang pesat di masa ini. Banyak pakar menilai seni Majapahit sebagai jembatan antara tradisi Hindu-Buddha dengan budaya lokal yang kemudian memengaruhi Islam Jawa.

Majapahit bukan hanya kerajaan yang menaklukkan wilayah, tetapi juga pusat budaya yang menyatukan perbedaan etnis dan kepercayaan.

Tantangan dan Kejatuhan: Pelajaran Bagi Generasi Modern

Seperti imperium besar lainnya, Majapahit pun mengalami kemunduran. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, perebutan tahta, melemahnya kontrol atas daerah, serta munculnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir membuat pengaruh Majapahit berkurang drastis. Pada akhir abad ke-15, kerajaan ini praktis runtuh.

Namun, kejatuhan Majapahit memberi pelajaran penting. Pertama, persatuan tidak boleh hanya berbasis pada figur tertentu, tetapi harus diperkuat oleh sistem dan nilai. Kedua, dominasi politik yang tidak disertai kesejahteraan merata akan memicu fragmentasi. Pelajaran ini masih relevan dalam membangun Indonesia modern yang terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman budaya.

Relevansi Majapahit Bagi Indonesia Kini

Warisan Majapahit masih terasa hingga hari ini. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” yang berasal dari kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular di masa Majapahit, kini menjadi semboyan resmi negara Indonesia. Pesan tersebut menegaskan bahwa perbedaan agama, budaya, dan etnis bukan penghalang persatuan.

Selain itu, penelitian arkeologi yang terus berkembang—seperti ekskavasi di Trowulan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (2022)—membuka pemahaman baru tentang struktur kota dan kehidupan sosial Majapahit. Hal ini memperkaya wawasan masyarakat modern tentang bagaimana leluhur membangun peradaban yang kompleks dan adaptif.

Bagi dunia pendidikan, sejarah Majapahit bisa dijadikan inspirasi dalam menumbuhkan nasionalisme dan apresiasi budaya. Bagi pemerintah, konsep maritim Majapahit menjadi landasan strategis dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Majapahit bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah warisan besar yang membentuk identitas Nusantara. Dari konsep persatuan, kejayaan maritim, karya sastra, hingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” semua menunjukkan bahwa warisan Majapahit adalah fondasi penting dalam membangun bangsa Indonesia modern.

Memahami Majapahit berarti memahami akar jati diri bangsa. Dengan belajar dari kejayaannya dan mengambil pelajaran dari kejatuhannya, kita bisa melangkah lebih bijak ke masa depan. Nusantara hari ini adalah cerminan dari mimpi besar yang pernah dicetuskan berabad-abad lalu di bawah panji Majapahit.

By user

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *